Selamat Tahun Baru 2018

Selamat Tahun Baru 2018

YESUS PELANGI BAGI ORANG PERCAYA



Tuhan Yesus Pelangi Bagi Orang Percaya
KEJADIAN 9 : 1 - 7
TEKS
9:1 Lalu Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya serta berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi.
9:2 Akan takut dan akan gentar kepadamu segala binatang di bumi dan segala burung di udara, segala yang bergerak di muka bumi dan segala ikan di laut; ke dalam tanganmulah semuanya itu diserahkan.
9:3 Segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau.
9:4 Hanya daging yang masih ada nyawanya, yakni darahnya, janganlah kamu makan.
9:5 Tetapi mengenai darah kamu, yakni nyawa kamu, Aku akan menuntut balasnya; dari segala binatang Aku akan menuntutnya, dan dari setiap manusia Aku akan menuntut nyawa sesama manusia.
9:6 Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri.
9:7 Dan kamu, beranakcuculah dan bertambah banyak, sehingga tak terbilang jumlahmu di atas bumi, ya, bertambah banyaklah di atasnya."

KONTEKS
Nuh adalah anak laki-laki Lamekh, yang dilahirkan pada saat Lamekh berumur 182 tahun. Ia dilahirkan 1.056 tahun setelah Adam. Dari 10 generasi setelah Adam, Nuh adalah orang ketiga yang memiliki umur terpanjang, mencapai 950 tahun. Namanya juga tercatat dalam silsilah Yesus di Lukas 3:36.
Nuh digambarkan sebagai orang yang benar di antara orang-orang lain yang hidup di zamannya. Kejadian 6:8 mencatat, "Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan". Pada saat itu, manusia hidup bergelimang dosa sehingga Allah memutuskan untuk menjatuhkan hukuman dengan bersabda "Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi" Akan tetapi, Allah tidak menghancurkan segala-galanya. Dia memerintahkan Nuh untuk membangun sebuah bahtera besar untuk menyelamatkan sebagian makhluk ciptaan-Nya.
Setelah bahtera itu selesai, Kitab Kejadian menggambarkan bahwa air merendam bumi selama 150 hari lamanya dan setelah itu air mulai surut. Nuh menunggu hingga bumi benar-benar kering sebelum membuka pintu bahtera. Nuh kemudian keluar bersama keluarga dan semua binatang yang ada di dalam bahtera tersebut.
Setelah Nuh diselamatkan, Allah mengadakan perjanjian dengan Nuh dan memberkatinya. Inilah perjanjian yang pertama dikenal dan bersifat universal karena meliputi seluruh umat manusia. Di kemudian hari, Allah mengadakan perjanjian pula dengan Abraham, tetapi perjanjian itu dianggap bersifat lebih khusus. Nama Nuh berasal dari Ibrani נֹחַ, נוֹחַ(Nōăḥ), yang berarti "hinggap", "menentramkan", "berhenti", atau "istirahat" (2 Raja-raja 2:15; Ratapan 5:5; Ulangan 5:14). Arti nama Nuh berdasarkan asal kata tersebut adalah "sabat", "istirahat", dan "penghiburan". Alkitab hanya mencatat Nuh memiliki tiga orang anak, Sem, Ham dan Yafet yang dilahirkan setelah Nuh berumur 500 tahun, sebelum air bah terjadi. Ketika Sem berusia 100 tahun, dua tahun setelah air bah, ia dikaruniai Arpakhsad. Oleh karena itu Sem berusia 98 ketika banjir datang. Ham dikatakan sebagai yang termuda. Nama istri Nuh tidak disebut dalam Alkitab, menurut Kitab Yobel (termasuk dalam kanon Gereja Ortodoks Ethiopia) namanya adalah Emzara.Tradisi Yahudi menulis nama istri Nuh adalah Naama (atau Naamah), putri Lamekh dan saudara perempuan Tubal-Kain


Pendahuluan
Nuh dan keluarganya baru saja melewati suatu peristiwa yang paling mengerikan sepanjang sejarah umat manusia. Semua mahluk di bumi, kecuali mereka yang ada dalam bahtera telah musnah dalam peristiwa banjir besar. Mereka keluar dari bahtera sebagai mahluk hidup yang masih bertahan di planet bumi ini, untuk melanjutkan kehidupan baru sesuai rencana Allah.
Bumi yang semula dipenuhi mahluk berdosa telah musnah oleh murka Allah. Namun dibalik murka Allah itu ada celah pengampunan sebab Allah tidak hanya bermaksud menghukum bumi tetapi juga membaruinya. Nuh, keluarganya dan segala binatang yang ada dalam bahtera terpilih untuk memulai kehidupan yang baru itu. Mereka akan menjalani rangkaian sejarah keselamatan yang telah dirancang oleh Allah.
Orang yang baru saja mengalami ‘perstiwa mengerikan’ memerlukan jaminan keamanan. Bayangkan betapa traumanya Nuh beserta keluarganya saat menjalani hidup baru di bumi yang baru saja dilanda air bah yang mematikan. Ketika hujan turun, mungkin mereka akan cemas. Bagaimana kalau hujan ini tidak berhenti? Ketika mendengar suara Guntur, mungkin mereka akan ketakutan. Apakah air bah akan datang lagi? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan mengganggu pikiran mereka.
Allah mengerti itu, maka secara sepihak Allah membuat perjanjian dengan Nuh, keluarganya dan seluruh binatang dan ternak yang bersama-sama mereka. Bahwa Allah tidak akan memusnahkan bumi ini lagi dengan air bah. Untuk meyakinkan mereka, sampai berkali-kali Allah mengucapkan janji-Nya (Kej. 8:21-22; 9:11,15) bahkan membuat ‘tanda’ untuk menguatkan janji itu (ay 13-14).
Setelah peristiwa air bah, Allah tidak lagi mengambil solusi hukuman yang membinasakan umat manusia tetapi mengikutsertakan manusia sebagai mitra-Nya dalam perjanjian keselamatan. Dalam Kej. 9:12-13, Allah berfirman: "Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya: Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi”. Tanda perjanjian keselamatan Allah yang penuh anugerah dinyatakan melalui simbol busur (qeset). Semula dengan busur yang dilengkapi dengan anak panah dipakai oleh Allah untuk memanah setiap umat yang berdosa, sehingga mereka binasa. Tetapi setelah bumi dibersihkan dari perbuatan dosa, Allah mengambil keputusan untuk menempatkan kasih-karunia-Nya yang membarui kehidupan umat yang berdosa. Karena itu simbol busur (qeset) yang dilambangkan dalam wujud pelangi bermakna ‘tumbuhnya pengharapan dan keselamatan yang baru’.
Busur Allah yang pernah membinasakan kehidupan umat kini berubah fungsi menjadi busur senjata  Penebus dan Penyelamat bagi umat yang berdosa. Sebagai Penebus dan Penyelamat, Allah menggunakan busur dan senjata-Nya untuk  menjaga dan melindungi umat agar  mereka terjaga dari serangan kuasa maut. Itu sebabnya dosa umat yang begitu besar tidak lagi menghalangi kasih-karunia Allah terus bekerja dalam kehidupan ini, sehingga umat dikaruniai pengharapan dan kesempatan untuk bertobat. Sekaligus busur Allah yang ditampilkan dalam bentuk pelangi untuk mengingatkan umat agar mereka selalu ingat akan kasih karunia Allah yang menjaga dan melindungi mereka. Sehingga umat dapat menjaga diri dari dorongan dan daya tarik dunia seperti yang pernah dilakukan oleh orang-orang pada zaman Nuh.

Refleksi
Allah telah berjanji bahwa Dia tidak akan lagi menghukum bumi ini dengan ‘air bah’. Allah telah memenuhi janji-Nya itu selama lebih dari 4.000 tahun. Sebagai orang percaya saya yakin dan saya memegang janji Allah itu. Namun demikian kita harus meresponi janji Allah itu dengan suatu sikap yang bijak, yaitu dengan menjaga dan memelihara bumi ini sebagai mandataris Allah. Jika Allah sendiri berkenan menjadikan pelangi sebagai alat untuk mengingatkan diri-Nya akan janji-Nya sendiri, maka pelangi itu juga harus menjadi peringatan bagi kita, manusia. Agar kita turut “memegang” janji Allah itu, dengan menjaga dan memelihara “stabilitas kosmis” sebagaimana dikehendaki-Nya.

Dalam praktek hidup sehari-hari, betapa sering kita melupakan dan mengabaikan perjanjian keselamatan Allah yang telah dianugerahkan dalam kehidupan kita. Itu sebabnya perjalanan hidup tidak lagi kita hayati sebagai suatu ziarah iman, tetapi sebagai rangkaian panjang petualangan akan dosa. Padahal relasi khusus yang diikat oleh Allah dalam perjanjian-Nya bertujuan agar kehidupan kita dapat menjadi suatu ziarah iman di mana kita harus selalu haus akan kebenaran-Nya. Tetapi ketika rasa haus kita tidak lagi terarah kepada kebenaran Allah, maka rasa haus kita akan berubah menjadi rasa haus akan kenikmatan dunia ini. Dalam situasi yang demikian, kita perlu bersikap seperti pemazmur yang berkata: “Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari” (Mzm. 25:4-5).

Dalam 2 Petrus 3:6-7 dikatakan, “dan bahwa oleh air itu, bumi yang dahulu telah binasa, dimusnahkan oleh air bah.  Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik.” Nas ini mengingatkan kita bahwa air bah tidak akan datang, namun api neraka pasti menjadi hukuman bagi orang-orang berdosa. Mari kita merenungkan ‘pemanasan global’ yang terjadi di zaman ini, yang jelas-jelas terjadi akibat ulah manusia, meyebabkan bumi ini semakin panas. Lapisan ozon yang meyelimuti  bumi dari sinar matahari semakin menipis akibat emisi (pengeluaran) karbondiokasida yang berlebihan yang berasal dari pembakaran hutan, asap pabrik, kendaraan bermotor dan gas. Oleh karenanya, panas sinar matahari yang sampai ke bumi pun berlebihan. Di Amerika, pada tahun 2005, ribuan orang mati karena sengatan sinar matahari. Di Banglades, ribuan orang mati karena kelaparan sebab panas matahari menggagalkan hasil pertanian. Saat ini juga bermacam-macam penyakit muncul akibata radiasi sinar matahari. Daya tahan tubuh mahluk hidup pun berkurang oleh karena radiasi sinar matahari yang membuat cacat kromosom dalam tubuh. Menjadi masuk akal bahwa Nuh bisa berumur 600 tahun sebelum peristiwa air bah, namum setelah itu – sampai sekarang ini umur manusia semakin berkurang. Sebab lapisan-lapisan air yang melindungi bumi sudah banyak tercurah pada peristiwa air bah (Kej. 7:11-12).

Tuhan Yesus, Pelangi Bagi Orang Percaya
Air dan api bisa saja memusnahkan mahluk di bumi ini. Namun ada satu jaminan bagi setiap orang percaya, dimana mereka tidak akan binasa oleh sesuatu apapun. Dalam Yoh. 3:16 dikatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Tuhan Yesus Kristus menjadi tanda pelangi bagi setiap orang percaya. Bertobatlah lalu percaya pada-Nya, dengarlah ajaran-Nya, lakukanlah perintah-Nya, maka kita akan terhindar dari hukuman Allah dan hidup kekal akan menghampiri kita. Amin.

Sumber:Pdt. Sisca Todingdatu (Bahan Persiapan IHM/4/8/13/Sjthr)

0 Response to "YESUS PELANGI BAGI ORANG PERCAYA"

Post a Comment

1.Berkomentarlah dengan kata-kata yang sopan
2.No SPAM, No Live link , No Sara , No P*rn
3.Untuk Blogwalking / Mencari Backlink bisa Menggunakan OPENID , Name URL

Komentar yang tidak sesuai dengan isi Konten , Akan Langsung di Delete.