Selamat Tahun Baru 2018

Selamat Tahun Baru 2018

PAHLAWAN

WAJAHNUSANTARAKU.COM, Jakarta, Pada era milenial, kekinian, zaman now  dimata awak media terasa sulit. Apa pasalnya tiap hari bertemu orang terkenal, wawancara, diskusi dll.
Kadang pertanyaan dan jawaban  tidak nyambung diedit disempurnakan agar tokoh yang diwawancara kelihatan perfecsionis, top markotop, terlebih para anggota DPR yg mulia dan terhormat harus kelihatan sempurna.

Bandingkan dengan pejuang tempoe doeloe, laskar, prajurit, komandan yang salah langkah beresiko Mati di tembak musuh atau mati di eksekusi komandan karena dituduh berkhianat. Pantaslah mereka dianugrahi gelar Pahlawan.
Lalu bandingkanpula dengan kasus SN yang ditetapkan tersangka oleh KPK, kemudian bebas di PN Jaksel karena putusan Hakim Prapradilan. Saat ini balik lagi dijadikan tersangka, banyak mengatakan konspirasi besar, berhubungan dengan politik Pilpres 2019,  rumor begitu banyak beredar di masyarakat.

Pertarungan ketat sesama lembaga penegak hukum KPK dan Pengadilan.  Stigma yang ada pada masyarakat adalah sulit memberantas Korupsi karena banyaknya aturan hukum yang dibuat untuk merintangi penegakan hukum. Saat ini masyarakat tambah bingung ketika ketua KPK  dilaporkan ke Bareskrim Polri maka tambah galaulah masyarakat melihat sistem peradilan Indonesia. Lembaga mana yang benar? . Filsul Karl Popper mengatakan" tidak ada yang absolute didunia ini semua teori harus diuji, diuji dengan keras (crucial test)". Tidak ada kekuasaan dan kebenaran yang absolute tentunya termasuk  kekuasaan dan kebenaran hakim,  biarkan waktu yang menentukan.

Tampaknya, di Indonesia, telah tumbuh dengan suburnya cara berfikir yang berakakar pada subyektivisme. Argumentasi banyak didasarkan pada perasaan, tanpa fakta, data, dan cara berfikir logis. Masyarakat kerap dipertontonkan akrobat politik, cara berbikir diluar akal sehat dan dipaksa menerima lontaran kata dan pernyataan yang tidak mencerdaskan.

Arogansi kekuasaan sangat kuat mewarnai cara melindungi dirinya dalam mendekati dan menyelesaikan masalah. Kritik sosial masyarakat yang tajam memandang ketidakmampuan lembaga penegak hukum menjalankan fungsinya pada kesetaraan semua warga negara dihadapan hukum. Menghormati penegakan hukum seolah dinafikan, disepelekan dengan dalih hak imunitas. Jiwa keteladanan, kesatriaan, sebagai ciri kepahlawanan menjadi jauh panggang dari api.

Pada konteks 'zaman milenial,' dikala keteladanan nyaris punah,  ada tokoh agama yang provokatif, cenderung masuk ke ranah politik tidak arif dan memberikan keteduhan dan menyejukkan masyarakat. Kelompok muda  melenial tambah goyah tidak ada tempat untuk menenangkan, meneduhkan hatinya.  Bermain games online, berselanjar di dunia maya,  bermain dan berkumpul dengan rekan rekan mereka adalah solusi untuk menenangkan hatinya.
Jiwa perjuangan dan nasiolisme harus terus ditanamkan pada generasi muda, etos inovasi terus dirangsang dan dibiasakan. Siapapun anak bangsa itu dan darimanapun ia lahir. Inilah kelak yang akan jadi pahlawan pada zamannya.

Era digital membuat masyarakat cepat mendapat informasi tanpa sempat berfikir dan tarik nafas jari jari langsung menyebarkannya termasukhoax  terbukti ada kelompok Saracen yang memproduksi  konten SARA dengan fitnah dan menyebarkannya  secara cepat  pada banyak orang hingga  masyarakat  terprovokasi cepat   marah. David Mikkelson, salah seorang pendiri situs anti hoax Snopes berkata, "Omong kosong akan tersebar lebih cepat dari yang bisa Anda tangkal".
Era digital tanpa literasi menyebabkan masyarakat dan generasi muda tersesat perkembangan teknologi baru yang terus berkembang;  ponsel(hardware), aplikasi dan system operasi(software) dan pemiliknya(brainware). Otak dan perilaku pemiliknya yang tidak sesuai dengan benda pintar yang dipegangnya inilah masalah yang harus dibenahi dan di edukasi.

Era digital memungkinkan setiap orang bisa dan boleh menjadi jurnalis dikenal dengan citizen jurnalis, melihat kejadian kebakaran di suatu tempat, tabrakan mrk lsg bisa membuat berita vidio, laporan live report radio. Era digital memutus mata rantai seseorang harus punya media menetap di suatu  perusahaan media baru bisa mencari dan membuat berita dan ini juga ancaman kedepan profesi wartawan setelah rontoknya media cetak. 

Setiap orang yang terpaku cara berfikir lama text book, tidak inovatif akan digulung arus perubahan robotik, kejam tanpa rasa. Mengapa saya katakan kejam?, contoh sewaktu kita menelepon seseorang tiba tiba pulsa kita habis apakah kita mendadak bisa minta tolong? Bisa dikatakan hari gini minta mama isiin pulsa beli dong, yang agak serius apakah e tol tidak membuat orang jadi pengangguran, Jack Ma membuat restoran tanpa pramusaji, lantas pekerjaan apalagi yang akan diambil alih di era milenial.

Apakah dampak era digitalisasi kedepan tidak menimbulkan gelombang pengangguran kala besar bagi Indonesia? Saya ingat dulu alm. Letjen(Purn) Tjokropranolo berpesan pada saya "Pesan saya pada jaman kamu nanti VOC akan kembali lagi, bukan berdagang rempah rempah dan hasil perkebunan, waspadalah". Saya kira yang dimaksud beliau adalah era digitalisasi saat ini, Oligarki bisnis digital masuk kita belum sempat membuat aplikasi setara Facebook, Instagram, dll. Melainkan hanya sebagai user produk teknologi perangkat lunak. Perang kita saat ini adalah jangan sampai anak bangsa ini menjadi pengangguran besar besaran duit habis beli paket data, ponsel canggih sementara perusahaan Oligarki meraup untung besar.

Perang candu di Hongkong pada abad ke 18, dari tahun 1839 - 1842 dan 1856 - 1860. Seakan terulang kembali menjelma menjadi Perang Narkoba di Indonesia yang akan menghancurkan generasi muda Indonesia kedepan, Budi Waseso mengatakan Narkoba adalah alat perang moderen di Era Milenial. Pemuda adalah tulang punggun negara sehingga bukan saja tanggung jawab pemerintah menjaga dan melindunginya tapi tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia.

Masyarakat harus membayar  mahal untuk mendapat motivasi dari para motivator untuk mendapatkan;  berfikir cerdas, pencerahan jiwa. Semangat kebersamaan semakin pudar karena kentalnya politik identitas  maka pahlawan dan kepahlawanan pun sulit muncul.
Orang lebih suka berjuang untuk diri sendiri dan kelompoknya yang terbatas, dan merasa serta menilai diri sebagai pahlawan. Padahal, pahlawan dan kepahlawanan itu karena karyanya nyata, terlihat, dan bermanfaat untuk masyarakat atau pun orang banyak.

Peluang di era Milenial ini sebenarnya momentum untuk para jurnalis  karena mudahnya menyebarkan informasi dengan cepat. Jurnalis  harus memiliki jiwa kemasyarakatan yang tinggi.  Jurnalis harus mampu menulis apa yang dirasakan dan dikeluhkan masyarakat.
Jurnalis harus memiliki  kemampuan untuk mengupas tuntas dan mengungkap setiap kasus, tidak mudah menerima informasi yang tidak memiliki fakta dan data.  Tidak mudah  diintervensi kelompok tertentu.

Jurnalis dengan penulis medsos dadakan yang ingin mengambil  peluang di era milenial sah saja walau kerap menjual subjektifitas memancing emosi karena yang mereka kejar adalah jumlah like di FB,  Twitter,  Instagram, pengunjung,  yang lebih serius  akan menjadi Blogger.
Profesi baru jurnalis medsos bukan ditekankan dan fokus pada nilai membuka tabir gelap menjadi terang.., bukan nilai nilai kepahlawanan, keberanian melawan arus yang diperjuangkan tapi nilai ekonomis yang di kejar karena sukses di era milenial diukur dari nilai pendapatan yang diterimanya (materialisme) itu wajar saja karena masuk kedunia digital butuh dana besar,  dari mulai beli paket hingga memiliki perangkat yang baik.

Undang Undang ITE memberikan batasan menulis bagi masyarakat umum untuk mengungkapkan perasaannya di ruang publik dengan ancaman pidana. Penulis medsos harus berhati hati dalam mengungkapkan perasaannya di ruang publik.

Jika para jurnalis tetap teguh pegang fungsi wacth dog, pengawas, kontrol sosial,  sebagai pilar demokrasi mencerdaskan masyarakat maka profesi Jurnalis pantas disebut Pahlawan tanpa bintang jasa.

Pantun yang pas adalah "Berenang renang ke hulu. Berakit ketepian, bersakit sakit dahulu..Mati kemudian.. Kapan senangnya ya he...he...
Selamat  Hari  Pahlawan
Jakarta, 10 Nov 2017,
Salam : Sang Jurnalis Thony  Ermando

0 Response to "PAHLAWAN"

Post a Comment

1.Berkomentarlah dengan kata-kata yang sopan
2.No SPAM, No Live link , No Sara , No P*rn
3.Untuk Blogwalking / Mencari Backlink bisa Menggunakan OPENID , Name URL

Komentar yang tidak sesuai dengan isi Konten , Akan Langsung di Delete.